RS PKU MUHAMMADIYAH

SURAKARTA

You are here:

Akhir-akhir ini, pelecehan seksual diranah remaja marak terjadi. Korban dari kasus ini ada yang masih SD hingga SMA. Maka dari itu, pendidikan seks harus ditanamkan sejak dini kepada anak-anak. Menurut psikolog RS PKU Muhammadyah Surakarta Fitria Sari Budiningtyas, S.Psi, Psi, MM, kasus pelecehan seksual terjadi karena ada beberapa faktor yang mempengaruhi. Seperti rasa keingintahuan tentang seks, pengaruh alkohol yang menyebabkan hilang kesadaran, dan efek dari semakin majunya teknologi yang membuat para pelaku mengakses situs-situs dewasa di internet dan merealisasikannya di dunia nyata tanpa memikirkan akibatnya.

            “Tujuan dari menanamkan pendidikan seks sejak dini adalah untuk membentuk suatu sikap emosional yang sehat terhadap masalah seksual dan membimbing anak-anak dan para remaja ke arah hidup dewasa yang sehat dan bertanggung jawab terhadap kehidupan seksualnya,” ujar Fitria.

            Fitria juga menjelaskan, peran orang tua sangatlah penting dalam edukasi yang satu ini. Karena orang tua lebih banyak memiliki waktu berkumpul dengan dengan anaknya. Maka dari itu, orang tua harus memahami sifat, sikap, dan perkembangan anaknya. Dalam mengedukasi pendidikan seks dengan anaknya, setiap orang tua harus pandai mencari peluang dan kesempatan saat berbicara dengan anaknya.

            Masyarakat juga memiliki peran penting dalam memberikan pendidikan seks sejak dini kepada remaja. Karena, remaja cenderung meniru aktivitas lingkungannya dimana dia tinggal. “Pendidikan seks bisa menyelamatkan kaum remaja dari keadaan yang tidak sehat atau berbahaya untuk kesehatannnya. Karena itu, pendidikan seks harusnya tidak lagi dianggap sebagai hal yang tabu dan tidak ditutup-tutupi lagi,” jelasnya.

            Fitria juga mengungkapkan betapa pentingya pendidikan seks sejak usia dini. Dari sisi seksualitas, remaja laki-laki sudah mengalami mimpi basah dan remaja perempuan sudah menstruasi. Sementara dari sisi psikologi, remaja mengalami puncak emosionalitasnya. Mereka lebih sensitif, reaktif yang kuat, emosi yang bersifat negatif dan temperamental (mudah tersinggung dan marah). Jika para remaja ini mendapatkan informasi yang positif, sifat-sifat yang muncul di masa remaja tersebut dapat membantu mereka menjadi lebih dewasa.

            “(Dengan pendidikan seks), remaja memiliki adekuasi (ketepatan) emosi berupa cinta, kasih sayang, simpati, altruis (senang menolong), respect (sikap menghormati sesama), dan ramah. Mereka juga mulai bisa mengendalikan emosi seperti tidak mudah tersinggung, tidak agresif, optimistic, dan bisa menghadapi kegagalan secara bijaksana,” tambahnya.

            Pendidikan tentang seks terbagi menjadi dua, yaitu pengetahuan secara biologis dan psikologis/pendekatan sosial. Pengetahuan biologis adalah pengetahuan tentang alat reproduksi perempuan dan laki-laki hingga proses kehamilan, melahirkan, dan memahami tentang penyakit menular seks (PMS) dan HIV/AIDS. “Pengetahuan kedua adalah pendekatan sosial/psikologis. Di sini, akan membahas soal seks, perkembangan diri, soal kontrasepsi, mengenai perilaku seksual beresiko dan hak-hak manusia untuk keselamatan hingga keputusan untuk melakukan hubungan seks,” kata Fitria Sari Budiningtyas S.Psi, Psi, MM.

            Menurut Fitria, pendidikan seks tidak hanya pengetahuan biologis saja. Tetapi berperan untuk melindungi kesehatan dan keamanan masyarakat. Fitria juga menambahkan, yang menjadi masalah saat ini adalah informasi yang benar tentang seks. Ini mengakibatkan para remaja salah paham dengan apa yang ditampilkan oleh media massa dan teman-temannya. “Hal ini yang membuat remaja masuk kategori kaum berisiko melakukan perilaku berbahaya untuk kesehatannya,” tandasnya.

            Oleh karena itu, para orang tua harus mulai dari sedini mungkin dalam memberikan pendidikan seks kepada anaknya, guna mencegah terjadinya seks bebas ataupun pelecehan seksual dikalangan remaja. Pemerintah juga harus melakukan program penyuluhan tentang pendidikan seks di sekolah-sekolah, untuk memberikan pengetahuan tambahan tentang seks kepada remaja. “Program tersebut seharusnya mencapai keseimbangan tentang pengetahuan lengkap dan norma-norma kebudayaan dan agama di Indonesia,” jelas Fitria.

Berita Terbaru

BEST BRAND UNTUK KATEGORI R…

BEST BRAND UNTUK KATEGORI RUMAH SAKIT SWASTA

Solo,...

Read more

PENYERAHAN AMBULANCE CSR BA…

PENYERAHAN AMBULANCE CSR BANK SYARIAH MANDIRI

Bant...

Read more

Link Partner

banner1

banner2

banner3

Denah Lokasi

Jl. Ronggowarsito 130
Surakarta 57131

Artikel Kesehatan

Galeri Foto