RS PKU MUHAMMADIYAH

SURAKARTA

Published by: Tim PMKP RS PKU Muhammadiyah Surakarta

Rumah sakit merupakan suatu tempat dimana orang yang sakit dirawat dan ditempatkan dalam ruangan yang berdekatan atau antara satu tempat tidur dengan tempat tidur lainnya. Di tempat ini pasien mendapatkan terapi dan perawatan untuk dapat sembuh, dimana enam puluh persen pasien yang dirawat di Rumah Sakit menggunakan infus. Penggunaan infus terjadi disemua lingkungan keperawatan kesehatan seperti perawatan akut, perawatan emergensi, perawatan ambulatory dan perawatan kesehatan di rumah, (Scahffer, At.All, 2006). Infus atau terapi intravena merupakan salah satu cara atau bagian dari pengobatan untuk memasukkan obat atau vitamin kedalam tubuh pasien (Darmawan, 2008).

Terapi intra vena digunakan untuk mengobati berbagai kondisi penderita disemua lingkungan perawatan di rumah sakit dan merupakan salah satu terapi utama. Sistem terapi ini berefek langsung, lebih cepat, lebih efektif, dapat dilakukan secara kontinu dan penderitapun merasa lebih nyaman jika dibandingkan dengan cara yang lainnya. Tetapi karena terapi ini diberikan secara terus-menerus dan dalam jangka waktu yang lama tentunya akan meningkatkan kemungkinan terjadinya komplikasi dari pemasangan infus, salah satunya adalah plebitis. Plebitis merupakan inflamasi vena yang disebabkan baik dari iritasi kimia maupun mekanik yang sering disebabkan oleh komplikasi dari terapi intravena. Plebitis dikarakteristikkan dengan adanya dua atau lebih tanda nyeri, kemerahan, bengkak, indurasi, dan teraba mengeras di bagian vena yang terpasang kateter intravena, (Darmawan, 2008).

Secara sederhana plebitis berarti peradangan vena. Plebitis berat hampir selalu diikuti bekuan darah atau trombus pada vena yang sakit. Plebitis dapat menyebabkan thrombus yang selanjutnya menjadi tromboplebitis, perjalanan penyakit ini biasanya jinak, tapi walaupun demikian jika thrombus terlepas kemudian diangkut dalam aliran darah dan masuk kejantung maka dapat menimbulkan gumpalan darah seperti katup bola yang bisa menyumbat atrioventrikular secara mendadak dan menimbulkan kematian, (Sylvia, 2005).

Jumlah kejadian plebitis menurut distribusi penyakit sistem sirkulasi darah pasien rawat  inap, Indonesia Tahun 2010 berjumlah 744 orang (17,11%), (Depkes, RI, 2008). Angka kejadian plebitis di RSU Mokopido Tolitoli pada tahun 2006 mencapai 42,4%, (Fitria, 2007). Penelitian lain yang dilakukan di RS DR. Sarjito Yogyakarta ditemukan 27,19% kasus plebitis pasca pemasangan infus (Baticola, 2002). Penelitian Widianto (2002) menemukan kasus plebitis sebanyak 18,8% di RSUD Purwokerto. Dan di instalasi rawat inap RSUD Dr. Soeradji Tirtonegoro klaten tahun 2002 ditemukan kejadian plebitis sebanyak 26,5% kasus, (Saryati, 2002).

Hal ini menunjukkan jumlah presentase pasien yang mengalami infeksi lokal yakni plebitis masih cukup besar, oleh karena masih di atas standart yang direkomendasikan oleh INS (Intravenous Nurses Society) yaitu 5%.

Banyak faktor telah dianggap terlibat dalam patogenesis plebitis, antara lain: faktor-faktor kimia seperti obat atau cairan yang iritan, Obat suntik yang bisa menyebabkan peradangan vena yang hebat, antara lain kalium klorida, vancomycin, amphotrecin B, cephalosporins, diazepam, midazolam dan banyak obat khemoterapi. Larutan infus dengan osmolaritas > 900 mOsm/L harus diberikan melalui vena sentral. Faktor mekanis seperti bahan, ukuran kateter, lokasi dan lama kanulasi serta agen infeksius. Kanul yang berukuran besar jika digunakan pada vena yang berlumen kecil dapat mengiritasi bagian intima dari vena, disamping itu fixasi  yang kurang tepat dapat menyebabkan inflamasi atau plebitis. Faktor pasien yang dapat mempengaruhi angka plebitis mencakup, usia, jenis kelamin dan kondisi dasar (yakni. diabetes melitus, infeksi, luka bakar). Suatu penyebab yang sering luput perhatian adalah adanya mikropartikel dalam larutan infus dan ini bisa dieliminasi dengan penggunaan filter. (Darmawan,2008).

Kepatuhan Pasien saat terpasang infus juga sangat berpengaruh dengan tingkat kejadian phlebitis misalnya pasien sering bergerak pada area yang terpasang infus, pasien lupa mematikan infus pada saat ke kamar mandi. Apabila pasien sering bergerak selama terpasang infus akan mengakibatkan plebitis seperti pembengkakan, kemerahan, nyeri disepanjang vena. Hal ini sangat merugikan bagi pasien karena infus yang seharusnya dilepas setelah 72 jam kini harus dilepas sebelum waktunya. Selain itu juga akan menambah biaya perawatan. (Darmawan, 2008).

Faktor yang dapat mendukung sikap patuh pasien, diantaranya: Pendidikan, pendidikan pasien dapat meningkatkan kepatuhan sepanjang pendidikan tersebut merupakan pendidikan yang aktif, seperti penggunaan buku dan lain-lain. Akomodasi Suatu usaha harus dilakukan untuk memahami ciri kepribadian pasien yang dapat mempengaruhi kepatuhan. Pasien yang lebih mandiri, harus dilibatkan secara aktif dalam program pengobatan sementara pasien yang tingkat ansietasnya tinggi harus diturunkan terlebih dahulu. Tingkat ansietas yang terlalu tinggi atau rendah, akan membuat kepatuhan pasien berkurang. Modifikasi faktor lingkungan dan social, membangun dukungan sosial dari keluarga dan teman-teman sangat penting, kelompok pendukung dapat dibentuk untuk membantu memahami kepatuhan terhadap program pengobatan, seperti pengurangan berat badan dan lainnya. Perubahan Model Terapi, program pengobatan dapat dibuat sesederhana mungkin dan pasien terlibat aktif dalam pembuatan program tersebut. Meningkatkan interaksi profesional kesehatan dengan pasien. adalah suatu yang penting untuk memberikan umpan balik pada pasien setelah memperoleh informasi diagnosis.

Infeksi yang terkait dengan pemberian infus dapat dikurangi dengan empat intervensi yaitu perawat melakukan teknik cuci tangan yang aktif untuk menghilangkan organisme gram negatif sebelum mengenakan sarung tangan saat melakukan prosedur pungsi vena, mengganti larutan intravena sekurang-kurangnya setiap 24 jam, mengganti semua kateter vena perifer sekurang-kurangnya  72  jam,  selain  itu perawat juga harus menjelaskan kepada pasien agar tidak banyak bergerak pada area yang terpasang infus, mematikan infus saat ke kamar mandi (Potter & Perry, 2005).

Di RS PKU Muhammadiyah Surakarta dalam penghitungan angka phlebitis menggunakan rumus indikator sebagai berikut :

pheblitis

Angka kejadian phlebitis di RS PKU Muhammadiyah Surakarta dari bulan ke bulan adalah sebagai berikut :

angka phlebitis

Angka kejadian phlebitis diawal tahu 2014 adalah 22.88 ‰ meski masih dibawah dari standar namun angka ini terbilang cukup tinggi. Sehingga tim PPI melakukan suatu analisis terhadap kejadian ini dan ditemukan bahwa :

  1. Kejadian phlebitis disebabkan karena pemberian obat osmolaritas tinggi / pekat
  2. Phlebitis terjadi karena kepatuhan pasien yang kurang
  3. Pemahaman petugas tentang tanda – tanda phlebitis tidak sama
  4. Kepatuhan petugas dalam cuci tangan dalam 5 moments masih kurang

Dari hasil analisa yang telah ditemukan tersebut akhirnya dilakukan suatu treatment untuk proses perbaikannya yaitu diantaranya adalah :

  1. Koordinasi dengan Farmasi dalam penggunaan obat – obat yang pekat / osmolaritas tinggi dengan melakukan pengenceran.
  2. Edukasi ke pasien saat akan dilakukan pemasangan infus. Edukasi ini berisi tentang hal – hal yang dilakukan atau tidak dilakukan pasien setelah dipasang infuse
  3. Peningkatan pemahaman petugas tentang tanda dan gejala phlebitis dengan cara resosialisasi Algoritma Phlebitis serta drajat / tingkat phlebitis.
  4. Pelaksanaan resosialisasi tentang hand hygiene baik mengenai langkah – langkah cuci tangan maupun 5 moments cuci tangan.
  5. Pelaksanaan audit kepatuhan cuci tangan pasien serta adanya pendampingan dan pembinaan terhadap staf yang tidak faham dan tidak patuh terhadap SPO cuci tangan
  6. Sosialisasi bundle infuse kepada seluruh staf pelaksana

Setelah dilakukannya treatment tersebut maka angka kejadian phlebitis di RS PKU Muhammadiyah Surakarta berangsur – angsur membaik dan selalu dibawah angka standar yaitu 25.05 ‰. Namun demikian proses perbaikan tersebut terus menerus dilakukan dan dimonitoring serta dievaluasi secara periodic baik oleh Tim PPI maupun bidang Keperawatan dalam rangka menjaga mutu pelayanan di RS PKU Muhammadiyah Surakarta.

Berita Terbaru

BEST BRAND UNTUK KATEGORI R…

BEST BRAND UNTUK KATEGORI RUMAH SAKIT SWASTA

Solo,...

Read more

PENYERAHAN AMBULANCE CSR BA…

PENYERAHAN AMBULANCE CSR BANK SYARIAH MANDIRI

Bant...

Read more

Link Partner

banner1

banner2

banner3

Denah Lokasi

Jl. Ronggowarsito 130
Surakarta 57131

Artikel Kesehatan

Galeri Foto